PROVINSI BENGKULU

FITRIYANTI HERLINDA SARI
1125101921
PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas UAS mata kuliah Antropologi dengan judul “Karangan Etnografi, Deskripsi Mengenai Suatu Suku Bangsa di Provinsi Bengkulu ” di Universitas Negri Jakarta Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Psikologi.
Terima kasih kepada Bapak selaku dosen mata kuliah Antropologi yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan, saya terima dengan senang hati.
Meskipun dalam penyusunan tugas ini saya telah mencurahkan semua kemampuan, namun saya menyadari bahwa hasil penyusunan tugas ini jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan data dan referensi maupun kemampuan saya.
Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas UAS mata kuliah Antropologi. Tidak ada manusia yang sempurna, atas kesalahan-kesalahan yang saya perbuat saya mohon maaf kepada Allah saya mohon ampun.
Jakarta, 31 Mei 2011
Penyusun
Fitriyanti Herlinda Sari
NIM. 1125101921
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Pengertian Etnografi
BAB II ISI
B. Kebudayaan atau Adat Istiadat Suku Bangsa
- Lokasi, Lingkungan Alam dan Demografi
Kondisi Lingkungan
Parameter Demografi
- Sejarah Suku Bangsa
Suku Rejang
Asal Usul Suku Rejang
- Bahasa
BAB III FOKUS PENELITIAN
C. Watak Bangsa
- Sistem Teknologi
- Sitem Mata Pencaharian
- Sistem Pengetahuan
- Organisasi Kesenian
- Sistem Religi
- Kesenian
BAB IV KESIMPULAN
REFERENSI
Karangan Etnografi, Deskripsi Mengenai Suatu Suku Bangsa di Provinsi Bengkulu

BAB I PENDAHULUAN
A. Pengertian Etnografi
Etnografi berasal dari kata latin “Etnos” dan Grafien” (Etnos = Suku bangsa, Grafien = Gambaran ), yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari suku bangsa beserta kebudayaannya. Dalam kajian antropologi “Etnografi” sering disebut “Tribe” dari pada“Ethnie”, sebab ethnie lebih memberi pemahaman adanya perbedaan kelompok dalam suatu masyarakat berdasarkan adat-istiadat, bahasa, sejarah dan kebudayaan. Pandangan Fredrik Borth dalam “Ethnie Groups And Boundaries” mengemukakan bahwa mempertahankan batasan itu terjadi dengan sendirinya. Terjadinya batasan itu disebabkan oleh adanya faktor isolasi, seperti perbedaan ras, perbedaan budaya, sosial ataupun perbedaan bahasa.
Istilah Etnografi berasal dari bahasa yunani kuno, Etnos dan Graphy. Etnos berarti bangsa dan grafi berarti diskripsi atau pelukisan. Dengan demikian etnografi adalah pelukisan mengenai bangsa-bangsa. Etnografi adalah memahami sebuah kebudayaaan secara menyeluruh, tanpa adanya intervensi dari peneliti, sifatnya hanya deskriftif, membiarkan budaya sebagaimana adanya.
BAB II ISI
B. Kebudayaan atau Adat Istiadat Suku Bangsa
1. Lokasi, Lingkungan Alam dan Demografi


Secara geografis, kota Bengkulu terletak pada koordinat 102° 15’BT-102° 22’ 30"BT; 3° 44’30"LS-3° 58’ 30". Di sisi barat, Kota Bengkulu dibatasi oleh Samudera Hindia, di selatan
berbatasan dengan Kabupaten Seluma sedangkan di utara dan di timur dibatasi Kabupaten
Bengkulu Utara. Kota Bengkulu terbagi dalam 8 kecamatan antara lain mulai dari utara adalah Kecamatan Muara Bangka Hulu, Teluk Segara, Sungai Serut, Ratu Samban, Ratu Agung, Gading Cempaka, Selebar dan Kecamatan Kampung Melayu
Kondisi Lingkungan
Bentang alam Kota Bengkulu membentuk perbukitan bergelombang memanjang sejajar pantai. Kota ini berada pada ketinggian 0-5 meter di atas permukaan laut (dpl) menempati kawasan sekitar pantai dengan lebar 50 m sampai 500 m, sekitar pusat dan melebar sampai sekitar 1-2 km sekitar Kandang dan Teluk Sepang. Berikutnya adalah ketinggian antara 5-20 m terdapat pusat kota dan ketinggian di atas 20 m menempati sebelah timur-tenggara Kelurahan Pager Dewa-Air Sebakul. Disisi timur dan selatan Kota Bengkulu di tempati daerah dataran rendah atau berawa seperti sekitar Danau Dendam Tak Sudah (ketinggian 5-10 m dpl), Talang Ampat dan Teluk Sepang (ketinggian 1-5 m dpl). Daerah dataran rendah lainnya yaitu merupakan dataran banjir menempati sepanjang aliran Sungai Air Bengkulu dan Sungai Jenggalu.

Kota Bengkulu dibatasi oleh dataran pantai landai berbentuk tanjung dan teluk di sisi barat, daerah rendah berawa atau danau dan perbukitan di sisi timur dan selatan. Kawasan pantai ditempati oleh Tanjung Agung dan Teluk Segara di sisi utara, sedangkan di selatan dibatasi oleh Tanjung Kerbau dan Teluk Pulau Baai. Kawasan pantai landai dengan kedalaman 0-5 m menjorok sampai sekitar 500 m lebarnya, kedalaman sampai -10 lebarnya sekitar 1-1,5 km, kecuali di sekitar Tanjung Pulau Baai yang relatif sempit, dan kedalaman sampai -20 m dengan lebar sekitar 1,5-2 km. Dibeberapa tempat teramati tinggian dengan kedalam sampai -5 m atau -10 m yang ditempati oleh batuan karang seperti Pulau Tikus atau Pulau Karang Lebar. Batuan karang juga menutupi sebagian kawasan pantai Panjang. Ke arah selatan, pantai Bengkulu dibentuk oleh suatu beting pasir memanjang sejajar pantai dan gumuk pasir dengan daerah rawa di sebelah dalamnya.

Bahaya alam di kawasan Kota Bengkulu antara lain gempa bumi, tanah retak dan amblas, abrasi, longsor, banjir, dan badai laut. Sementara itu, bahaya tsunami belum pernah tercatat pada kondisi aktual. Gempa bumi merupakan kejadian alam yang paling merusak dirasakan oleh warga Kota Bengkulu, seperti yang pernah terjadi pada 4 Juni 2000 dengan kekuatan 7,9 Mw. Walaupun pusat gempa bumi berada di bawah Pulau Enggano, kerusakan bangunan dan lingkungan juga terjadi di Kota Bengkulu. Catatan sejarah gempa bumi yang pernah melanda Bengkulu antara lain gempabumi tahun 1833 (9Mw), 1914 (?Mw), 1940 (7Mw) dan 1980 (8Mw).

Data dari Bappeda Kota Bengkulu (2005) dan informasi dari masyarakat (2006) menunjukan bahwa kerusakan bangunan akibat gempa bumi diakibatkan oleh kualitas bangunan yang tidak memenuhi syarat tahan gempa bumi maupun diakibatkan oleh amblasan dan retakan tanah. Dua hal terakhir mengakibatkan bangunan amblas maupun terbelah. Retakan tanah, oleh penduduk disebut sebagai ‘urat gempa” memiliki keteraturan berupa kelurusan dengan arah paralel dengan kelurusan garis pantai atau berarah barat laut-tenggara terutama pada batuan lepas berupa pasir, lumpur sebagai hasil pengendapan pantai. Amblasan maupun retakan adalah gejala alam yang disebut sebagai ‘liquifaction” atau peluluhan terutama terjadi pada batuan pasirlanau lepas yang bersifat tidak kompak.
Banjir adalah kejadian alam yang sering terjadi terutama sepanjang aliran sungai Bengkulu. Daerahrawan bencana banjir antara lain adalah Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Semarang dan Surabaya.Sementara itu daerah yang perlu waspada adalah sepanjang aliran Sungai Janggalu. Banjirdiperkotaan sering diakibatkan tersumbatnya saluran pembuangan (siring) maupun akibat hujan besar dan lama maupun pasang naik.
Longsor, menurut informasi jarang terjadi di Kota Bengkulu. Walaupun demikian perlu diwaspadai potensi longsor terutama pada tebing batuan undak/teras yang kelurusannya sejajar dengan yang disebut sebagai “urat gempa”, seperti yang pernah terjadi pada saat gempa bumi pada tahun 2000. Badai laut merupakan kejadian alam yang pernah terjadi, seperti pernah melanda Pasar Bengkulu,dan Kampung Cina. Daerah lainnya yang perlu waspada adalah sepanjang tepian pantai Panjang,muara air Jenggalu, Desa Kandang maupun kawasan Desa Teluk Sepang. Kejadian alam lainnya yang merusak dan merugikan adalah abrasi pantai seperti teramati di Pondok Besi, Kampung Cina dan kawasan pantai Teluk Sepang.
Dalam menghadapi bencana tsunami atau gempabumi, dengan mengacu pada data pengamatan bentang alam dan sifat fisik lingkungan, Kota Bengkulu memiliki banyak pilihan jalur dan tempat evakuasi, baik sementara maupun permanen. Untuk sementara Kota Bengkulu paling selatan atau Teluk Sepang relatif akan mendapat kesulitan akibat terisolir bila ada bencana besar seperti gempa bumi kecuali ada ruas-ruas jalan baru. Beberapa keuntungan Kota Bengkulu adalah dataran rendah tepi pantainya cukup sempit hanya sekitar 300 m sampai 500 m, tidak jauh dari pantai sudah sampai pada ketinggian 2-5 m atau sampai 10 m, kecuali daerah Kandang dan Teluk Sepang.
Parameter Demografi
Parameter demografi terdiri dari masalah penduduk, fertilitas, mortalitas dan migrasi yang dapat mempengaruhi terhadap permasalahan, sehingga perlu diperhatikan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Visi yang diamanahkan Undang - Undang Nomor 52 tahun 2009 mencapai Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) pada tahun 2015 dimana penduduk yang kecepatan perubahan jumlahnya bersifat konstan dan proporsi untuk masingmasing kelompok umumnya tetap.
Wujud dari Penduduk Tumbuh Seimbang dimana Total Fertility Rate (TFR ) yaitu rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang wanita sampai dengan akhirmasa reproduksinya sebesar 2,1 , selanjutnya Angka Reproduksi Netto (NRR) rata-rata jumlah anak perempuan yang dilahirkan oleh seorang wanita selama hayatnya dan akan tetap hidup sampai dapat menggantikan kedudukan ibunya, dengan mengikuti pola fertilitas dan mortalitas yang sama seperti ibunya sebesar 1, Usia Kawin Pertama 21 tahun serta Laju Pertumbuhan Penduduk.
TFR Provinsi Bengkulu SDKI tahun 2007 sebesar 2,23 anak per wanita, pada tahun 2015 TFR di Provinsi Bengkulu diproyeksikan sebesar 2,04 dan NRR 0,96. Jumlah penduduk di Provinsi Bengkulu tahun 2015 di proyeksi sebesar 1.955.400 terdiri dari penduduk laki-laki sebesar 993.200 dan penduduk perempuan 962.200.
Struktur kelompok umur 0 – 14 sebesar 26,0, kelompok umur 15 – 64 tahun sebesar 69,9 persen dan kelompok umur 65 + sebesar 4,1 persen, Dependency Ratio 43,0 persen, Provinsi Bengkulu akan mengalami titik terendah rasio ketergantungan pada tahun 2023 sebesar 41,54 dimana pada tahun ini provinsi Bengkulu akan mendapatkan bonus demografi atau Jendela Kesempatan (The Window of Opportunity)
Angka Harapan Hidup (Life Expectancy Rate of Birth) rata-rata perkiraan umur yang memungkin dicapai oleh seseorang pada saat ia dilahirkan pada laki-laki di Provinsi Bengkulu tahun 2015 sebesar 70,3, dan untuk perempuan 74,4 sedang total angka harapan hidup 72,3 tahun.
Piramida Penduduk Provinsi Bengkulu Tahun 2011

2. Sejarah Suku Bangsa
Suku Rejang mendiami wilayah Bengkulu dan tersebar di seluruh daerah Lebong, Curup, serta Kepahiang. Mereka memiliki populasi terbesar dibanding dengan suku lain di wilayah tersebut. Selain juga menjadi suku tertua di wilayah Sumatra selain Suku Melayu.
Mulai Menerima Kemajuan
Menjadi suku mayoritas di propinsi Bengkulu, tidak membuat mereka lantas dominan menjadi penyelenggara dan pionir kemajuan di sana. Beberapa pola pikir khas suku primitif daerah, yaitu tertutup dalam menerima kemajuan dan pembaharuan yang datang, serta selalu curiga dan iri, membuat Suku Rejang sedikit lamban menerima perubahan.
Untungnya, saat ini semakin banyak anak suku Rejang yang telah menempuh pendidikan tinggi dan mampu berkarya dan menjadi tokoh penting di daerah tersebut. Hal ini perlahan-lahan membuat masyarakat asli mulai membuka diri dalam menerima pembaharuan di segala bidang.



Asal-usul Suku Rejang
Beberapa keterangan yang berasal dari kisah para Tembo dan tetua adat Suku Rejang sendiri, asal-usul masyarakat mereka ialah dari bangsa Bedara Cina yang terdampar di Bengkulu dan menetap di Renah Sekalawi. Mereka lantas terbagi menjadi 4 daerah kekuasaan yang dipimpin oleh 4 orang petinggi.
Kemudian, terjadi pernikahan antara keturunan petinggi mereka dengan bangsawan dari kerajaan Sriwijaya. Ini adalah cikal bakal Rejang Empat Petulai (Jang Pat Petulai), atau 4 desa yang memiliki pemerintahan sendiri. Semakin lama, persebaran mereka semakin luas dan populasi suku ini semakin banyak.
Namun, tidak ada yang tahu pasti seberapa akurat kisah tentang asal-usul ini, disebabkan tidak adanya bukti tertulis. Yang ada hanyalah kisah dari riwayat yang telah banyak ditambahi dan dikurangi sesuai dengan kebutuhan politik dan keadaan saat itu.
3. Bahasa
Mempelajari bahasa menjadi dasar dari penelitian lapangan. Mempelajari bahasa merupakan langkah paling awal dan penting utuk mencapai tujuan utama etnografi mendeskripsikan suatu kebudayaan dengan batasan-batasan sendiri.
Terdapat empat bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Bengkulu, yakni : Bahasa Melayu, Bahasa Rejang, Bahasa Pekal, Bahasa Lembak. Penduduk Provinsi Bengkulu berasal dari tiga rumpun suku besar terdiri dari Suku Rejang, Suku Serawai, Suku Melayu.
Suku Rejang adalah suku mayoritas di Bengkulu memiliki perbedaan yang mencolok dalam dialek penuturan bahasa. Dialek Rejang Kepahiang memiliki perbedaan dengan dialek Rejang di Kabupaten Rejang Lebong yang dikenal dialek Rejang Curup, dialek Rejang Bengkulu Utara (identik dengan dialek Rejang Curup), dan dialek Rejang yang penduduknya di wilayah kabupaten Lebong. Secara kenyataan yang ada, dialek dominan Rejang terdiri tiga macam. Dialek tersebut adalah sebagai berikut:
§ Dialek Rejang Kepahiang
§ Dialek Rejang Curup
§ Dialek Rejang Lebong
Dari tiga pengelompokan dialek Rejang tersebut, saat ini Rejang terbagi menjadi Rejang Kepahiang, Rejang Curup, dan Rejang Lebong. Namun, meskipun dialek dari ketiga bahasa Rejang tersebut relatif berbeda, tapi setiap penutur asli bahasa Rejang dapat memahami perbedaan kosakata pada saat komunikasi berlangsung. Karena perbedaan tersebut seperti perbedaan dialek pada bahasa Inggris Amerika, bahasa Inggris Britania, dan bahasa Inggris Australia. Secara filosofis, perbedaan dialek bahasa Rejang terjadi karena faktor jarak, faktor sosial, dan faktor psikologis dari suku Rejang itu sendiri. Hal ini juga membuktikan bahwa tingkat persatuan dan kesatuan suku Rejang masih sangat rendah jika dibandingkan dengan suku bangsa terdekat lainnya suku Lembak, suku Serawai, dan suku Pasemah.
BAB III FOKUS PENELITIAN
C. Watak Bangsa
Pada masa silam, suku bangsa yang bernama Rejang sama sekali tidak menamai komunitas mereka dengan nama apapun. Istilah rejang, dipopulerkan oleh Hindia-Belandapada zaman kolonialisasi. Makna rejang itu sendiri berdasarkan konteks dan maksud dari bangsa Belanda adalah alat untuk merejang atau alat untuk membongkar. Hal ini sesuai dengan karakteristik suku bangsa ini yang bersifat blak-blakan yang terkesan tidak perhitungan, sehingga mereka yang tergolong pada kelompok masyarakat tersebut dijadikan alat mencari informasi tentang kondisi dan situasi alam dan kehidupan sekitar wilayah mereka.
Provinsi Bengkulu merupakan salah satu propinsi yg terletak di pesisir barat pulau sumatera. Bengkulu memiliki obyek wisata yang beragam, baik wisata alam, budaya maupun sejarah. Dengan beragamnya objek wisata yang ada di Bengkulu, berpotensi mendatangkan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Namun dalam hal ini kurangnya sarana informasi pariwisata yang ada di Bengkulu berpengaruh terhadap jumlah wisatawan yang berkunjung kesana. Dari hasil pantauan penulis dilapangan, pihak Dinas Pariwisata Bengkulu hanya menyediakan sejumlah katalog, data kunjungan wisatawan domestikmaupun mancanegara serta peta wisata saja. Untuk melengkapi tujuan tersebut diperlukan informasi tentang tujuan wisata, obyek wisata yang menarik, sarana yang tersedia seperti transportasi untuk mencapai daerah tujuan wisata, produk wisata yang diminati dan lain sebagainya. Untuk memperoleh informasi tersebut wisatawan sering mengalami kesulitan karena tidak mengetahui dimana dan pada siapa harus meminta informasi. Singkatnya kebutuhan informasi di bidang pariwisata meningkat dan perlu disiapkan dengan rapi dan terstruktur agar dapat diakses dengan mudah.
Secara umum dapat dikatakan masyarakat Bengkulu memiliki Watak yang cukup baik seperti sistem kekerabatan yang hangat, terbuka, solidaritas yang tinggi, perilaku sehari-hari yang masih kental dengan kebudayaan Islam serta sifat-sifat yang lain yang bisa dibilang cukup baik akibat pengaruh budaya Islam yang masih kental tersebut. Semua sifat tersebut dikarenakan berbagai faktor yang akan kita bahas berikut ini:
a. Sistem Teknologi
Masyrakat bengkulu saat ini banyak yang memanfaatkan kecanggihan dari dunia teknologi untuk memperluas sistem informasi,
Membangun sistem yang akan memberikan informasi bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Provinsi Bengkulu tentang informasi menggunakan MySQL, AJAX, Jquery, dan PHP. Sistem ini juga dibangun dengan tujuan mempermudah dalam memperoleh informasi mengenai Provinsi Bengkulu. Karena sistem informasi ini bersifat online dan realtime maka informasi yang didapat oleh pemakai (user) lebih akurat sehingga mereka dapat mengetahui lebih jauh tentang Provinsi Bengkulu dan tertarik berwisata ke Bengkulu.
Hasil implementasi dari tujuan diatas direalisasikan dengan cara membuat sebuah sistem informasi pariwisata yang dapat memudahkan user dalam dalam mendapatkan informasi. Menampilkan informasi mengenai Provinsi Bengkulu, diantaranya letak geografis, sejarah serta adat dan budaya. Informasi wisata budaya di Provinsi Bengkulu, yang di antaranya wisata budaya dan peninggalan sejarah. Informasi wisata alam, diantaranya pantai pegunungan, wisata kuliner dan rekreasi, wisata pedesaan serta wisata agro. Selain itu juga menyajikan informasi fasilitas dan aneka informasi yang diantaranya fasilitas penunjang wisata, seperti reservasi hotel, reservasi travel, resto, dan usaha kerajinan.
Perumahan
Untuk mengurangi resiko akibat gempabumi membuat bangunan/ rumah yang tahan gempa merupakan salah satu pilihan yang tepat. Oleh karena itu, pengetahuan tentang ciri bangunan/rumah yang tahan gempa menjadi sangat penting. bangunan yang tahan gempa adalah bangunan/ rumah yang terbuat dari material ringan (misal kayu, bambu, seng dsb). Mungkin mereka beranggapan bahwa bangunan/ rumah dari material yang ringan akan banyak mengurangi resiko akibat gempa dari pada model bangunan yang lain. Pengetahuan tentang bangunan/ rumah terbuat dari material ringan tersebut barangkali berkaitan dengan pengalaman melihat kerusakan akibat gempa selama ini. Juga melihat bangunan/ rumah yang selama ini tidak mengalami kerusakan ketika ada gempa besar dan atap yang lebih aman seperti seng.
Menurut beberapa informan, setelah terjadinya gempa besar tahun 2000 banyak penduduk Kota Bengkulu yang membangun rumah dengan material yang lebih ringan. Atap rumah yang semula menggunakan genteng tanah atau genteng semen, sekarang banyak yang kembali menggunakan atap seng. Adat kebiasaan masyarakat Bengkulu dahulu sebetulnya telah terbiasa membuat rumah dengan atap seng dan kemungkinan mereka telah mengantipasi untuk mengurangi resiko gempa. Di samping genteng seng lebih ringan, tidak begitu membahayakan seperti genteng tanah/ semen. Apabila ada goyangan gempa besar genteng tanah/ semen bisa lepas-lepas dan dapat jatuh menimpa orang-orang yang tinggal di bawahnya.
Terlihat disini bahwa masyarakat bengkulu sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya, dengan menghindari adanya korban karena tertimpa reruntuhan bangunan jika terjadi gempa. sehingga mereka berusaha mengurangi resiko tersebut dengan membangun rumah yang bermaterial ringan.
b. Sistem Mata Pencaharian



Mata pencaharian utama penduduk Bengkulu adalah pertanian, dimana lebih dari 70 persen berkerja dalam bidang tersebut. Ini dapat dilihat dari distribusi Pendapatan Domestik Bruto Bengkulu yang didominasi sektor pertanian sebesar 42,79 %.
Pemerintah Provinsi sendiri sebenarnya telah menyadari bahwa salah satu hambatan dalam penanggulangan kemiskinan adalah keterbatasan akses masyarakat terhadap sumber daya alam/produksi. Tetapi yang terjadi di lapangan sebenarnya pengambil kebijakan semakin hari semakin mengurangi akses dan kontrol masyarakat terhadap sumber daya alam/produksi tersebut.
Satu hal yang selalu didengung-dengungkan oleh pemerintah, baik Provinsi maupun Kabupaten adalah bagaimana mendatangkan investor apapun yang sebagian besar bergerak dalam bidang eksploitasi sumber daya alam, misalnya HGU untuk perkebunan besar, Kontrak Pertambangan, Izin eksploitasi kayu dan lainnya. Perilaku ini sebenarnya semakin hari semakin menyingkirkan masyarakat adat dari tanahnya sendiri karena izin-izin tersebut telah membuat masyarakat adat kehilangan akses terhadap lahan pertaniannya.
Investasi-investasi tersebut memang mendatangkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, tetapi sebenarnya tidak dapat menjawab kebutuhan sehari-hari mereka. Pendapatan dari bekerja di perkebunan atau pertambangan jauh lebih kecil bila dibandingkan mereka dapat mengelola lahan secara mandiri. Investasi-investasi tersebut sebenarnya yang menjadi penyebab utama pemiskinan masyarakat terutama masyarakat adat di Bengkulu. Pola penanggulangan kemiskinan selama ini yang dilaksanakan oleh pemerintah tidak memperlihatkan hasil nyata walaupun telah mengeluarkan biaya sangat besar, karena tidak melihat akar masalah kemiskinan itu sendiri.
Meskipun begitu masyarakat tetap dapat memanfaatkan lokasi-lokasi pariwisata mereka untuk mendapatkan wisatawan agar berkunjung ke bengkulu, hal inilah yang menyebabkan masyarakat bengkulu bersifat ramah, baik, blak-blakan, dan sebagai informan meskipun watak keras mereka sering muncul dalam kondisi tertentu.
c. Sistem Pengetahuan
Tiap suku bangsa di Bengkulu pasti mengetahui alam sekitarnya, alam floranya, alam faunanya, sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia dan lain-lain. Pengetahuan-pengetahuan ini tentulah sangat membantu masyarakat sekitar, seperti pengetahuan mengenai alam sekitarnya tentang musim-musim hal ini diperlukan untuk bertani, berlayar dll dalam hal mata pencaharian masyarakat sekitar.
Pengetahuan alam sekitar tentang rentannya daerah Bengkulu terhadap gempa, membuat masyarakat dapat berantisipasi untuk menghadapi jika terjadi gempabumi, tsunami, banjir, tanah longsor, gunung berapi dan badai.
Pengetahuan tentang alam flora juga merupakan kebutuhan, dikarenakan masyarakat Bengkulu mata pencaharian hidupnya yang pokok adalah bertani terlebih lagi Bengkulu sendiri memiliki icon flora terbesar di dunia yaitu Rafflesia Arnoldi.

Pengetahuan tentang alam fauna juga dapat membantu petani agar dapat menjaga tanamannya dari perilaku fauna yang dapat merusak wilayah pertanian.
Pengetahuan lainnya juga sangatlah diperlukan untuk mempermudah masyarakat dan membantunya dalam mata pencaharian hidupnya, dalam hal berinteraksi dengan sesama maupun bangsa asing, dalam hal menjaga keamanan dan kenyamanan hidupnya.
d. Organisasi Sosial
Organisasi sosial adalah dimana terdapat suatu struktur organisasi dan suatu faktor, yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok-kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor-faktor itu yang terdiri dari dimana merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, ideologi yang sama, politik yang sama. Hal ini merupakan ikatan yang bersifat pokok untuk jangka waktu tertentu.
Sistem kekerabatan suku-suku bangsa yang tinggal di Propinsi Bengkulu pada umumnya hampir sama. Perbedaan yang ada hanya pada istilah atau sebutannya saja.
Tempat tinggal keluarga yang baru menikah akan ditentukan oleh perjanjian antara kedua belah pihak keluarga sebelum upacara akad nikah. Perjanjian tersebut pada dasarnya sama bagi suku Serawai dan suku Rejang. Perjanjian kedua belah pihak keluarga akan memberikan tiga kemungkinan status keluarga bagi pasangan yang baru menikah yaitu : Asen Beleket atau Kulo Reto; Asen Semendo atau Kulo Semendo Masuak Kampung, dan Semendo Rajo-Rajo. Sejalan dengan ketiga bentuk perjanjian itu maka garis keturunan pasangan keluarga baru akan terdiri dari tiga macam pula, yaitu Patrilinial (ikut garis keturunan ayah), Matrilinial (ikut garis keturunan ibu) dan Bilinial (bebas memilih, ikut garis ayah atau ikut garis ibu).
Secara umum pada keluarga batih, fungsi sosial, ekonomi, pendidikan dan keagamaan menjadi tanggungjawab keluarga. Seluruh pekerjaan di rumah tangga dikerjakan bersama-sama secara gotong-royong, meskipun sebenarnya ada pembagian tugas di antara anggota keluarga. Pembagian fungsi dan pekerjaan dalam keluarga batih dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Ayah berfungsi sebagai pelindung keluarga dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat.
b. Ibu berfungsi sebagai pengaman dan penenang keluarga, dan ia melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.
c. Anak-anak berfungsi sebagai pengikat kasih sayang dan mereka bekerja membantu kedua orang tuanya dalam pekerjaan yang ringan-ringan. Bagi anak yang sudah dewasa, mereka akan membantu pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan jenis kelamin mereka.
Tanggungjawab orang tua terhadap anak hanya selama sang anak belum berumah tangga. Apabila anak tersebut sudah berumah tangga maka ia harus turun dari rumah dan mencari tempat kediaman sendiri. Kalau dia belum memiliki rumah sendiri maka dia dapat menumpang sementara di rumah orangtuanya atau di rumah mertua
Tidak heran jika masyarakat Bengkulu memiliki sifat yang ramah, solidaritas yang tinggi, memiliki hubungan yang erat satu sama lain, hangat, dan lain-lain. Hal ini tidak terlepas dari lingkungan tempat ia lahir yang memiliki aturan-aturan, adat-istadat dan sistem kekerabatan yang membentuk karakter mereka tersebut.
e. Sistem Religi
Sebenarnya dalam suku bangsa Melayu sistem religi ini lebih banyak dititik berat kepada ketentuan yang diatur oleh agama Islam. Perkembangan kepercayaan dimulai dengan animisme dan dinamisme langsung beralih ke Islam tanpa melalui kepercayaan Hindu dan Budha. Karenanya peninggalan kepercayaan lama seperti “jimat” (kata benda sakti), keramat orang-orang yang memiliki tenaga batin istimewa), hari naas(sial) ,hari mujur dan lain-lain masih membekas.

Di bidang kehidupan beragama, kesadaran melaksanakan ritual keagamaan mayoritas penduduk yang beragama Islam secara kuantitatif cukup baik. Kesadaran dikalangan pemuka agama untuk membangun harmoni sosial dan hubungan intern dan antar umat beragama yang aman, damai dan saling menghargai cukup baik.
Disamping itu, terdapat adat dan istiadat yang cukup akrab dengan masyarakat Bengkulu, diantaranya: Kain Bersurek, merupakan kain bertuliskan huruf Arab gundul. Kepercayaan masyarakat di Provinsi Bengkulu umumnya atau sebesar 95% lebih menganut agama Islam. Upacara adat juga banyak dilakukan masyarakat di Provinsi Bengkulu seperti, sunatan rasul, upacara adat perkawinan, upacara mencukur rambut anak yang baru lahir.
Jika sistem religi ini dikaitkan dengan watak masyarakat Bengkulu, jelas tentu saja setiap agama terlebih lagi agama Islam mengajarkan pada penganutnya untuk saling membantu dan menghargai serta menghormati satu sama lain. Apalagi masyarakat bengkulu mayoritas beragama Islam tentu hal ini meminimalisir bahkan mungkin tidak ada konflik-konflik pertentangan dikarenakan perbedaan agama, hal inilah yang akan memperkuat hubungan kekerabatan masyarakat Bengkulu.
f. Kesenian
Pengaruh Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bengkulu masih sangat kental, hal ini terlihat dari adat istiadat yang berlaku yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam, seperti seni kerajinan Kain Besurek yang merupakan kain bertuliskan huruf Arab Gundul serta upacara adat yang bernuansa Islam banyak dilakukan masyarakat antara lain;
• Untuk mengenang gugurnya Hasan dan Husen cucu Nabi Muhammad S.A.W di adakan perayaan upacara ritual Tabot setiap tanggal 1 sampai dengan tanggal 10 Muharram. Perayaan Tabot saat ini sudah menjadi bagian dari kalender wisata nasional setiap tahunnya.
• Kesenian berzikir (Syarafal Annam), nyanyian yang diambil dalam Kitab Berzanji dengan bunyi-bunyian rebana yang dimainkan oleh kaum laki-laki. Berzikir biasanya dilakukan pada acara Perkawinan, Hari besar agama dan lain-lain.
Selain itu kesenian yang biasa dilaksanakan seperti Kesenian Gamat yang merupakan musik tradisional iramanya mirip Melayu Deli dan di sertai pantun-pantun, Kesenian Gambus yang merupakan jenis musik umumnya berirama padang pasir, Kesenian Dendang biasanya dilaksanakan pada upacara perkawinan. Dendang adalah nyanyian –nyanyian yang di iringi oleh musik rebana .Jenis dendang antara lain;Senandung Gunung, Ketapang, Rampai- rampai dll.




Dalam tatanan sosiologi masyarakat yang memilki beragam suku dan bahasa masyarakat Kota Bengkulu mempunyai Falsafah hidup “Seiyo sekato” merupakan motto kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama sering kita dengar dalam bahasa pantun ”Kebukit sama mendaki, kelurah sama menurun” artinya dalam membangun, pekerjaan seberat apapun jika sama-sama dikerjakan akan terasa ringan juga.Selain itu ada pula” Bulek air kek pembuluh, bulek kato kek mufakat” artinya bersatu air dengan bambu, bersatunya pendapat dengan musyawarah. Falsafah hidup ini mampu meningkatkan kerukunan dan kualitas membangun kerja sama diantara masyarakat Kota Bengkulu, sehingga ketika mereka berbaur masih tetap bisa bekerja sama meskipun berbeda suku dan bahasa.
Nah jelaskan bahwa masyarakat bengkulu mayoritas muslim dan kebudayaan mereka sangat dipengaruhi besar oleh budaya-budaya Islam, terlihat sangat jelas dengan berbagai kebudayaan serta kesenian mereka yang masih hidup sampai sekarang bercirikan khas atau identik dan dikaitkan dengan segala sesuatu yang bernuansa Islami.
BAB IV KESIMPULAN
Kesimpulan
Dengan adanya Etnografi dapat memudahkan kita untuk beradaptasi terhadap lingkungan suatu daerah, karena dengan etnografi memberikan banyak informasi kepada kita tentang watak, bahasa, agama mayoritas, dll pada daerah tertentu yang sangat kita butuhkan terutama bagi yang profesinya diharuskan untuk berpindah-pindah wilayah.
Tujuan utamanya adalah memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Sebagaimana dikemukakan oleh oleh Malinowski, tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Oleh karena itu, penelitian etnografi melibatkan aktifitas belajar mengenai dunia yang orang yang telah belajar melihat, mendengar, berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang berbeda. Tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu, etnografi berarti belajar dari masyarakat.
Dengan etnografi kita dapat memahami tingkah laku, pola perilaku serta cara berpikir suatu masyarakat tertentu. Dalam kajian bidang ilmu psikologi etnografi sangat membantu para psikolog, karena suatu karakter atau kepribadian seseorang dipengaruhi atau dibentuk oleh lingkungan, kebudayaan, adat-istiadat, serta pola perilaku, tingkah laku dan cara berpikir masyarakat disekitar tempat ia tinggal. Yang kesemua faktor tersebut dijelaskan secara mendetail pada sebuah penelitian lapangan Etnografi. Seperti yang telah kita bahas diatas, terkait dengan fokus penelitian WATAK SUKU BANGSA yang kemudian kita kaitkan dengan berbagai faktor lain seperti sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, kesenian, dan sistem religi. faktor-faktor itulah yang menjelaskan pembentukan watak suku bangsa tersebut.
REFERENSI
Koentjaraningrat; Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, 2009.
Hoesin, Kiagoes; Koempoelan Oendang-Oendang Adat Lembaga dari Sembilan Onderafdeelingen dalam Gewest Benkoelen, Sriwijaya Media Utama, 1993.
http://www.indonesia.go.id/in/pemerintah-daerah/provinsi-bengkulu/sosial-budaya.html